Halaman

Minggu, 03 Juli 2011

Undur-undur ‘Si Monster’ Manjur


Nama latinnya Myrmeleon Sp, dilihat melalui kaca pembesar, wujudnya seram seperti monster. Kita mengenalnya dengan sebutan Undur-undur, larva kecil yang dipercaya bisa menyembuhkan diabetes dan penyakit lain. Kini hewan anti air itu dibudidaya dan  diperjual belikan secara online.

Jika singgah di Pasar Burung, Jalan Bekasi Barat, Jatingera, Jakarta Timur, kita jumpai beberapa pedagang Undur-undur, salah satunya Bang Jupri. Pria paruh baya yang mangkal di halte bis depan SMPN 14 ini menjual eceran dan partai besar. “Saya punya stok banyak, kalau kurang nanti ada yang setor,” ujarnya.

Untuk menarik pembeli, Bang Jupri yang sudah mangkal di sana sejak lima tahun silam itu sengaja pasang papan nama relatif besar. “Kalau nggak ada tulisan gede begini, orang nggak tahu saya dagang apa. Yang dijualkan kecil-kecil, ngumpet lagi dipasir,” kelakarnya.

Promosi Bang Jupri, Undur-undur dapat menyembuhkan penyakit diabetes, darah tinggi, stroke, sesak napas, reumatik, sakit kuning, pegel linu, dan lainnya. “Untuk menjaga stamina juga biar sehat dan fit terus. Nih baca brosurnya,” papar Bang Jupri seraya menyodorkan fotokopian brosur.

Harga seekor Undur-undur di sana berkisar antara Rp800,- sampai Rp1000,-. Jika beli dalam jumlah besar, harga bisa lebih murah. “Kalau belinya diatas 50 ekor, nanti saya diskon lagi deh,” ujar Bang Jupri yang juga menjual obat herbal lain seperti Sarang Semut dari Papua.

Meskipun bentuknya kecil dan lunak, Undur-undur sulit ditangkap. Hewan ini tinggal di dalam pasir yang dibentuk seperti kawah gunung “Kalau musim hujan, jarang ada, biasanya di pasir samping rumah, teras, pesisir. Banyak yang kirim dari Jawa Tengah,” ungkap Bang Jupri.

Selama ini, selain mengandalkan kiriman pengepul dari Jawa Tengah, Bang Jupri mengaku suka ‘berburu’ Undur-undur sendiri. Dia mendatangi rumah-rumah yang halamannya berpasir atau ke Tempat Pemakaman Umum (TPU). “Biasanya di rumah kosong atau dekat kuburan yang tanahnya kering dan berpasir,” ujarnya.

Jika over stoknya, Bang Jupri  terpaksa harus merawat ratusan bahkan ribuan Undur-undur itu di rumahnya. Dia gunakan akuarium atau wadah plastik  yang diisi pasir halus. Sebagai pakannya, Bang Jupri memberi semut kecil atau susu bubuk. “Ditaburi susu sedikit di atas pasirnya, pasti habis dimakan,” cerita Bang Jupri.

Menurut Bang Jupri, agar tidak over dosis, mengkonsumsi Undur-undur harus disesuaikan dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit dan stadium penyakit. Jika untuk menjaga stamina, cukup dengan satu kapsul sehari yang berisi tiga undur-undur.

Warisan Tiongkok
Kebiasaan mengkonsumsi Undur-undur sebagai obat diabetes rupanya sudah berlangsung lama di Tiongkok. Orang-orang Tiongkok biasanya mencampur beberapa Undur-undur dan bahan herbal ke dalam kapsul.

Semula Undur-undur yang dalam bahasa Mandarin dikenal dengan sebutan Diguniu yang sudah dikemas dalam kapsul kurang diminati. Baru sekitar lima tahun silam, justru Undur-undur hidup malah diburu dan diminati. Kondisi itu tidak lepas dari peran media, terutama media internet.

Undur-undur atau dalam bahasa Inggris disebut Antlion adalah kelompok binatang holometabola, yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur, larva, pupa, dan imago. Dilihat dengan kaca pembesar, bentuknya memang menyeramkan, mirip monster.

Secara medis, kepercayaan sebagian masyarakat tentang Undur-undur sebagai obat diabetes memang belum bisa dibuktikan. Sebab itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Aru W. Sudoyo, tidak berani merekomendasikan undur-undur sebagai obat diabetes.

Namun menurut Dr. Huang Lie Ying, seorang sinshe dari Gubeng, Surabaya, Diginiu memang sudah lama digunakan di Tiongkok sebagai obat diabetes. ”Namun, penelitian klinis dan pemakaiannya secara klinis di Tiongkok belum ada,” ungkap Huang.

Tyas Kurniasih, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta pernah membuat tesis berjudul Kajian Potensi Undur-Undur Darat. kesimpulannya, binatang ini mengandung zat sulfonylurea yang dapat melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin.

Karena, ketika insulin dalam tubuh manusia menurun sementara kadar glukosa darah meningkat, maka terjadi ketidakseimbangan. Jika insulin sebagai penghasil energi tubuh terus berkurang, tubuh mudah terserang penyakit.

Darmansyah (55), salah seorang pelanggan Bang Jupri mengakui keajaiban makhluk kecil itu. Pensiunan Departemen Perhubungan ini merasa sudah bisa mengendalikan kadar gula darahnya dengan mengkonsumsi Undur-undur.

Warga Klender, Jakarta Timur ini awalnya mengidap diabetes dengan kadar gula darah mencapai 300 mg/dl. Namun, setelah rutin menelan undur-undur, gula darahnya turun menjadi 140 mg/dl.

Awalnya dia minum sehari dua kali dengan cara ditelan. Sekali telan langsung tiga ekor. Karena, kadar gula darahnya sudah turun, konsumsi undur-undurnya berkurang menjadi tiga ekor sehari. “Jika terlalu banyak badan jadi panas,” kisah Darmansyah.

Dijual Online
Sekitar lima tahun silam, Suganda, warga Desa Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sudah membudidayakan Undur-undur. Dia tertarik mengembangbiakan hewan yang biasa hidup di pasir kering dan berjalan mundur ini setelah tahu khasiatnya.

Cara beternak undur-undur relatif mudah. Cukup menyediakan kotak berisi pasir kering, lembut dan beberapa ekor bibit undur-undur. Suganda menempatkan ‘ternak’nya itu di dalam kotak dari stereofoam atau kotak kayu.

Hanya dalam waktu satu minggu, Undur-undur akan menetaskan telur disarangnya yang mirip kawah gunung. Untuk pangannya, undur-undur hanya membutuhkan serangga kecil seperti semut atau telur semut herang. Kadang diberi susu bubuk. Undur-undur pantang kena air., dan setiap pagi dijemur wajib sekitar dua jam.

Selain Bang Jupri dan beberapa rekan seprofesi yang mangkal di kawasan Jatinegara, plus Suganda yang membudidayakannya, masih banyak orang menggantungkan hidup dari Undur-undur. Bahkan,  Undur-undur pun sudah dibisniskan lewat internet, alias bisa transaksi secara online.

Seperti yang dilakukan Okman yang menawarkan Undur-undur seharga Rp1000,- perekor. Okman hanya melayani pembelian dalam satu paket minimal 100 ekor plus bonus 25 ekor. Menurutnya, jika beli dalam partai besar, harganya masih bisa ‘digoyang’ lagi alias lebih murah.

Dengan moto “kirim dulu baru bayar” Okman melayani pembeli dari berbagai daerah hingga negeri jiran. Umumnya mereka adalah pemakai, bukan pedagang. “Awalnya mereka hanya coba-coba, setelah merasakan kemanjurannya, mereka menjadi langganan,” papar Okman.

Testimoni orang yang pernah merasakan langsung pasti lebih ‘mujarab’ sebagai media promosi ketimbang beriklan.  Begitu juga dengaj booming Undur-undur ini lantaran pengakuan dari mereka yang sudah tertolong setelah mengkonsumi makhluk kecil itu.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Majalah Bobo Ada, Playboy Juga Tersedia

Pedagang buku dan majalah bekas di Pasar Proyek Senen ‘tersengal-sengal’. Meski pelanggan makin sepi, mereka coba bertahan. Jika butuh majalah edisi lama, singgah saja, majalah Bobo ada, Playboy juga tersedia.

Siang itu, teriknya langit Jakarta seolah tembus ke kios-kios pedagang buku dan majalah bekas di Pasar Proyek Senen. Beberapa pedagang memilih bertelanjang dada mengusir gerah di kios yang bersisian dengan Terminal Bis Senen.

Di kios-kios tidak seberapa luas, dan banyak kios tanpa dinding itu puluhan pedagang mengadu untung menawarkan buku dan majalah bekas. Menurut Siregar (32), yang sudah sepuluh tahun mangkal di sana, pedagang hanya menjual satu jenis barang, buku atau majalah saja.

“Tadinya saya ikut orang jual majalah bekas. Setelah menikah, saya harus mandiri. Karena cuma usaha ini yang saya bisa, modal dari orang tua di kampung saya buat usaha ini,” ungkap Siregar yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya ini.

Pria bertubuh kekar ini mengaku omzet penjualan majalah bekas semakin lama semakin merosot. Dia belum bisa menyimpulkan apa penyebabnya. “Katanya sih gara-gara internet. Orang yang butuh referensi dan data cukup lihat di internet, nggak usah cari-cari buku atau majalah,” ungkapnya.

Argumentasi Siregar bisa juga benar. Dulu sebelum internet merakyat, orang berburu buku dan majalah bekas untuk melengkapi data tesis, skripsi, atau sekedar ingin mengoreksi informasi masa lalu. Kini cukup di klik, semua informasi terpampang di depan mata.

“Sekarang pembelinya terbatas kolektor atau sesama pedagang dari luar Jawa. Kalau nggak ada mereka, saya sudah gulung tikar,” ungkap Siregar yang mengaku memiliki banyak pelanggan dari Sumatera, Kalimantan dan Jambi. Biasanya para pedagang dari daerah itu datang sebulan sekali untuk memborong.

Untuk melengkapi koleksi dagangannya, Siregar tidak perlu lagi berburu majalah bekas. Sebab, biasanya ada saja orang datang ingin menjual majalah bekas. Dia ini akan memilih, majalah apa yang akan laku dan memiliki harga jual tinggi.

“Sulit menentukan mana yang bagus, kadang kita anggap bagus, eh, belum tentu laku. Ada yang kita tidak anggap, malah laku dengan harga tinggi,” cerita Siregar yang pernah menjual satu majalah dengan harga Rp100.000,-.

Waktu itu, cerita Siregar, ada seorang pria datang mencari sebuah majalah terbitan ibukota. Majalah itu tidak popular, bahkan hanya terbit beberapa tahun saja. Hitungan Siregar, harganya tidak lebih dari sepuluh ribu.

“Rupanya orang itu sudah cari-cari tapi tidak dapat. Dia bilang mau bayar berapa saja kalau ada. Pas saya cari-cari, ternyata ada satu terselip diantara dagangan saya. Orang itu mau bayar seratus ribu,” kenang Siregar.

Untuk menentukan harga, pria berambut ikal ini lihat-lihat dulu seperti apa ‘butuh’nya si calon pembeli. Jika terlihat sangat membutuhkan majalah yang dicari, Siregar akan pasang harga tinggi. Jika calon pembeli tampak santai saja, biasanya akan ditawari dengan harga  normal.

Selain tahun edisi yang menentukan harga, kondisi majalah juga bisa jadi patokan. Biasanya majalah tua harganya relatif mahal, apalagi jika masih ‘mulus’. Majalah anak-anak Bobo dihargai Rp1.500,- majalah lain terbitan lima tahun belakangan berkisar antara lima sampai dua puluh ribu rupiah. Khusus majalah impor, minimal dipatok Rp30.000,- termasuk majalah Playboy impor.

“Yang lokal juga ada, tapi kurang laku, tuh masih banyak. Kalau Playboy impor banyak yang cari. Tapi nggak dijual sembarangan. Hanya beberapa pedagang saja yang punya, kalau ada pembeli baru saya carikan,” ungkap Siregar yang tidak mau menyebut harga.

Untuk memulai usahanya ini, minumal dibutuhkan modal sekitar Rp15 juta. Untuk sewa kios sekitar Rp10 juta dan untuk melengkapi dagangan sekitar Rp5 juta. “Sebagian dagangan ini titipan orang. Modal saya masih kurang,” ujar Siregar.

Kios di sini mulai buka sejak pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Jika beruntung


Siregar bisa mengantongi sedikitnya Rp50 ribu sehari. Tapi kalau sedang sepi, satu majalah pun tidak beranjak dari kiosnya.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Nak



Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki yang tak bersepatu

Duduk sini Nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang
Segala sesuatu hanya ada karena uang

Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang

Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Pedulu titel didapat atau titel mu’jizat

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi
Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Dorna jangan jadi Bima
Sebab seorang Dorna punya lidah sejuta

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalanmu terhambat

Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sakit apalagi yang berkarat

Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet tahan kondisi

Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Kisah Petani Kota Di Lahan Sengketa


Banyak lahan kosong di Jakarta dimanfaatkan untuk pertanian kota, salah satunya di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat. Tanah luas itu ditanami bermacam sayuran. Hasil panennya masuk di banyak rumah makan terkenal.

Pagi itu, persimpangan Jalan Pemuda masih lengang. Jarum jam baru beranjak dari angka 6 pagi. Beberapa asongan koran, rokok dan masker penutup wajah masih santai di bawah tiang lampu merah.
Beberapa meter dari persimpangan yang sebentar lagi dipadati kendaraan itu, kesibukan sudah dimulai. Belasan pria berkulit gelap bolak-balik menyiram tanaman dari dua ember besar dipikulan. Di lahan luas yang sempat jadi pemukiman liar itu kini berubah hijau, segar dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang di sana.

Dekat pintu masuk lahan seluas 1,8 hektar itu berdiri papan nama yang sudah usang. Samar-samar terbaca tulisan yang menjelaskan tanah tersebut dikuasai Pemkot Jakarta Pusat. Lantas bagaimana ceritanya lahan ‘sengketa’ itu bisa dimanfaatkan oleh para petani kota tersebut.

“Jangan disebut tanah sengketa, kurang enak didengarnya. Ini milik Pemda, saya dipercaya untuk mengelolanya selama belum dimanfaatkan. Kalau dibiarkan, nanti jadi pemukiman liar, kan repot,” ujar Tri (41) yang mengaku bertanggung jawab kepada seseorang pejabat di lingkungan Pemda.

Hari itu, Tri sedang memperbaiki satu mesin pompa air yang rusak. Untuk memenuhi kebutuhan semua tanaman dilahan itu dibutuhkan lima mesin pompa. “Kalau rusak begini, pasokan airnya bisa kurang, kalau dibiarkan bisa gagal panen. Tanaman di sini hampir semuanya harus sering disiram,” ungkap Tri yang dibantu Rizal (21) memperbaiki mesin pompa tersebut.

Lahan seluas itu digarap oleh lima pemborong yang telah mendapat ‘jatah’ lahan garapan sesuai kesepakatan dengan Tri selaku pengelola lahan. Tiap pemborong mempekerjakan buruh tani antara 2 sampai 5 orang. Mereka dibayar Rp30.000 perhari. Tugas mereka mulai dari menanam bibit sampai panen.

Semua kebutuhan bercocok  tanam menjadi tanggung jawab pemborong. Mulai dari membeli bibit, pupuk dan obat anti hama. “Semua kebutuhan mulai dari membeli bibit sampai panen, termasuk bayar uang listrik menjadi tanggung jawab saya,” ujar Rizal, yang meneruskan ‘jabatan’ pemborong dari ayahnya.

Hampir semua yang menggantung hidup di lahan itu berasal dari Bogor, Jawa Barat. Rizal melanjutkan posisi ayahnya sebagai pemborong sejak tiga tahun silam itu. Sang ayah  sudah mengadu nasib sebagai petani kota sejak lahan itu ‘dibersihkan’ dari penghuni liar sekitar tahun 1999 lalu. Kini lelaki sepuh itu memilih istirahat di Bogor sambil tunggu setoran dari anaknya.

Para pemborong hanya menanam lima jenis sayuran yang dianggap mudah dijual, seperti kangkung, selada, sawi putih, kemangi dan bayam. Rizal lebih suka menanam selada dan dan kemangi karena sudah punya pelanggan tetap.
Selain membawa hasil panen ke pasar terdekat, mereka juga punya konsumen tetap penjual masakan pecel lele dan beberapa rumah makan di sekitar Jakarta. Terkadang ada konsumen rumah tangga datang membeli untuk dikonsumsi sendiri. Alasan mereka, selain masih segar, harganya lebih murah. Sebuah rumah makan terkenal yang mengandalkan menu bebek kremes menjadi pelanggan tetap Rizal.

“Datangnya sih nggak setiap hari, tapi sekali belanja bisa sampai 500 ribu. Kalau kebetulan saya tidak siap panen, nanti saya suruh ambil di temen saya (pemborong lain) yang sudah bisa panen,”  cerita Rizal tentang rumah makan itu
.
Agar tanamannya bisa sering dipanen, para pemborong harus bisa mengatur waktu tanam yang tepat. Sekian ratus pohon ditanam hari ini, ratusan lain di hari berikutnya. Habis panen langsung tanam lagi, begitu seterusnya. “Tapi, bisa gagal panen juga kalau kurang hati-hati merawatnya,” terang  Rizal.

Pemborong muda ini mengaku, setiap minggu wajib setoran ke Bogor. Setelah dipotong semua biaya, paling sedikit Rizal serahkan sekitar Rp2 juta. “Mungkin penghasilan saya paling kecil, karena tanahnya paling sedikit. Pemborong lain tanahnya lebih luas,” tutur Rizal yang mengantongi sedikitnya Rp200 ribu setiap minggu untuk kebutuhan pribadinya.

Dibayar Harian
Tumbuh subur atau matinya tanaman di sana tergantung dari perlakuan Suganda Cs. Bersama 24 buruh tani lainnya, pemuda berusia 25 tahun mulai pagi hingga petang berkutat di antara tanaman di bawah terik matahari.

“Tugas saya apa ya.., ya semuanya. Maculin tanah, tanam bibit, siram tanaman, sampe panen. Hidup matinya tanaman ini tergantung saya. Kalo si bos (pemborong) kan tahunya panen, terima uang. Semuanya kita yang ngerjain,” ungkap Suganda yang juga asli Bogor ini.

Sudah hampir setahun Suganda menjadi anak buah Rizal. Sebelumnya dia kerja serabutan, termasuk pernah menjadi penjual balon keliling. “Enak di sini sih, nggak usah muter-muter kayak waktu jualan balon. Sehari dibayar tiga puluh. Dua puluh disimpen, sepuluhnya buat makan sama rokok,” cerita Suganda yang hanya ambil upah kalau sedang butuh atau ingin pulang ke Bogor saja.

Mungkin upah sebesar itu relatif cukup untuk Suganda yang masih lajang. Namun untuk Sarip (38), upah sebesar itu hanya cukup untuk makan istri dan dua anaknya. Anak sulungnya sudah kelas 2 SD, sementara yang si bungsu tahun ini masuk SD. “Untung istri saya bantuin. Dia jualan nasi buat temen-temen di sini,” ujra Sarip yang setiap pagi mengantar anaknya sekolah di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Awalnya Mumun (36), sang istri menolak diajak tinggal di kebun itu. Selain harus tinggal bersama yang lain di rumah bedeng kumuh, Mumun juga merasa takut hidup di tengah kota tapi tidak ada tetangga. “Eh, sekarang dia betah. Bisa jualan nasi buat nambah-nambah,” ungkap Sarip senang.

Rizal, Suganda, keluarga Sarip dan mereka yang mengandalkan hidup dari lahan sengketa itu tidak tahu sampai kapan bisa bertani disana. “Diawal kita sudah membuat perjanjian tidak akan menuntut apa-apa jika tanah ini akan digunakan oleh pemiliknya,” ujar Tri yang juga mengelola lahan serupa di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Jika setahun lagi, sebulan lagi, atau mungkin minggu depan lahan itu harus dikosongkan, mereka wajib angkat kaki. Mungkin mereka akan cari lahan lain, atau pekerjaan lain. Pastinya mereka harus memulai dari nol lagi.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Kamis, 30 Juni 2011

Si Onthel Main Sinetron

Awalnya ikut foto pre wedding, kemudian main iklan bareng Giring Nidji, kemarin syuting sinetron ‘Gadis Plastik’. Itulah ‘karir’ onthel tua milik Isworo.
Sejak dicanangkan museum sebagai tujuan wisata, banyak perubahan terjadi di bangunan-bangunan di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Selain dipercantik, bangunan bersejarah itu pun kini menjadi maskot wisata Jakarta.

Setiap hari, terutama hari libur, banyak pelancong singgah. Museum Sejarah Jakarta yang dahulu dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah menjadi pusat keramaian. Kawasan yang semula sepi itu, kini hidup dan menjadi lahan mencari uang bagi segelintir warga Jakarta.

Isworo (38), merupakan satu dari puluhan orang yang menikmati berkahnya program Wisata Museum. Sejak tahun 2007, pria asal Yogyakarta yang sudah lama menetap di Jakarta ini dipercaya mengelola belasan sepeda onthel sewaan di kawasan Kota Tua. Ayah dari dua putri ini mangkal di halaman Museum Sejarah Jakarta.

Bersama enam teman seprofesi, setiap hari mereka ‘memejeng’ sekitar 230 sepeda. “Sepeda saya cuma satu, lainnya milik bos,” ujar Isworo sambil menunjuk sepeda tua hitam yang sudah kusam. Menurut mantan sopir taksi ini, dia dan enam temannya hanya pengelola yang  wajib setoran kepada bosnya.

Hampir semua sepeda itu sudah sepuh. Bahkan ada yang tahun produksinya sebelum kita merdeka, alias warisan Belanda dan Jepang. Namun sayang, hanya demi menarik minat pengunjung, sepeda-sepeda itu dicat dengan warna cerah mengganti warna orisinilnya. “Kalau nggak dicat begini, jarang yang mau naik,” ujar Isworo.

Di beberapa titik halaman museum yang selalu ramai dengan pedagang kaki lima itu Isworo dan temannya mangkal. Diantara barisan sepeda tua warna-warni itu pasti ada beberapa onthel orisinil.

Sepeda yang masih lengkap dengan ‘atribut’nya itu biasanya diminati orang yang mengerti tentang sepeda tua. “Pengunjung kelahiran Jawa Tengah biasanya pilih yang masih ori (orisinil). Mereka ingin nostalgia saat bersepeda di kampungnya,” terang Isworo.

Kehadiran sepeda sewaan ini berawal dari kesepakatan pengelola Museum Sejarah Jakarta dengan Komunitas Onthel Wisata Kota Tua yang kini beranggota 38 pemilik onthel. Di komunitas yang dibentuk tahun 2007 itu, Isworo menjebat  sebagai wakil ketua.

Dibawa Kabur
Komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah pengojek sepeda itu semula hanya kongkow-kongkow di halaman museum. Hingga suatu ketika ada fotografer pre wedding yang meminjam salah satu onthel menjadi properti pemotretan. “Waktu itu dibayar lima puluh ribu,” kenang Isworo.

Karena sering disewa untuk pre wedding, akhirnya mereka jadi sering kumpul di sana sampai terbentuk komunitas tersebut. Dari sanalah muncul ide menyewakan onthel. “Enak disewakan, kita gak capek gowes lagi,” terang Iip (40), anggota komunitas yang masih menyandang profesi pengojek sepeda.

Saat itu, hampir setiap hari pengojek sepeda anggota komunitas mangkal di dekat museum berharap ada tertarik menyewa onthel-nya  keliling museum. “Kalau ngojek dari Stasiun Kota ke Mangga Dua paling mahal dibayar goceng (Rp5000,-). Disewain sebentar dapat noban (Rp20.000,-),” ungkap Iip yang kelahiran Jakarta.

Ongkos sewa onthel sudah dipatok seragam Rp20.000,- selama satu jam plus dua topi kalau ingin boncengan. Penyewa hanya bisa berkeliling di sekitar museum saja, kalau melewati batas area akan ‘disemprit’ keamanan yang jaga di beberapa titik pintu keluar.

Jika ingin bernostalgia lebih jauh dan lebih lama, penyewa bisa pesan paket lintasan lima lokasi dengan tarif  Rp.30.000,- persepeda ditambah biaya guide alias pendamping Rp. 30.000,-.  
“Penyewa harus didampingi karena harus lewat jalan raya dan singgah di lima lokasi wisata, seperti Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syah Bandar, Jembatan Kota Intan, dan Toko Merah. Kalau nggak pakai pendamping bisa kesasar,” ungkap Isworo.

Menurut Iip yang lebih memilih jadi guide ketimbang ngojek ini, fungsi pendamping selain mengarahkan juga mengawal agar sepeda tidak dibawa kabur penyewa. Harga onthel yang lumayan mahal itu pasti menggoda penjahat mencurinya, seperti yang dialami Isworo.

Sekitar tahun 2008 kawasan museum belum ‘steril’ seperti sekarang. Penyewa onthel belum diawasi ketat sehingga bisa bebas gowes sampai luar area. Suatu hari ada sepasang remaja menyewa onthel Isworo, namun sampai sekarang ontehl itu tidak kembali. “Saya tidak curiga, yang cewek masih pakai seragam sekolah, cowoknya pakaian biasa. Eh, malah maling,” tuturnya.

Jika dibandrol, harga sepeda keluaran Jerman merek Simpson produksi tahun 1940-an sekitar 3 sampai 5 juta rupiah. Namun Isworo lebih rela kehilangan uang sejumlah itu dibanding kehilangan onthel Simpson-nya.
“Jaman Jepang, kakek saya itu tentara Heiho. Dia dikasih sepeda Simpson untuk patroli. Saya menyesal sekali tidak bisa menjaga warisan berharga itu. Kalau boleh pilih, lebih baik kehilangan uang. Bisa cari lagi. Tapi cari sepeda seperti itu lagi sangat langka,” keluhnya.

Bintang Iklan
Setelah ‘pensiun’ jadi sopir taksi, Isworo yang sejak kecil suka dengan onthel warisan kakeknya itu segera memboyong Simpson tua dari kampungnya ke Jakarta. Karena banyak waktu luang, dia lebih sering mengurus ‘pusaka’ itu dan sering kumpul bersama onthelis lain di kawasan kota.
Lantaran banyak permintaan foto untuk pre wedding dan foto session para fotografer pemula, Isworo cs mulai serius menanggapi ‘bisnis’ barunya itu. Mereka lebijh serius merawat sepeda tuanya sambil melengkapi dengan spart part aslinya.

Karena onthel-nya raib digondol orang. Isworo terpaksa berburu onthel. Dari seorang teman dibisa memiliki lagi satu onthel merek Philips. Entah kenapa, dari sekian banyak onthel di kawasan itu, justru milik Isworo yang sering dapat job.

Diawali dari foto pre wedding dengan tarif Rp.50.000,-, onthel itu dipakai syuting iklan rokok bersama grup band Nidji. “Onthel saya yang dinaiki Giring. Lumayan dapat lima ratus ribu. Saya jadi tambah bangga sama sepeda ini,” papar Isworo.

Kalau hanya sekedar jadi properti pemotretan, hampir setiap bulan Isworo dapat job. Belum lama ini, onthelnya juga dipakai sebagai properti pembuatan sinetron Gadis Plastik. “Onthel saya dibawa ke lokasi syuting. Sampai sekarang saya belum lihat sinetronnya,” ujar pria yang mengaku sedikit lancar berbahasa Inggris ini.

Meskipun belum lihat ‘akting’ sang onthel, namun Isworo puas dan bangga. Ternyata sepeda tua itu telah menjadi bagian hidup dirinya dan keluarga. Dari sepeda itu dia bisa menghidupi istri dan dua anaknya. “Yang besar sudah lulus SMEA. Sebentar lagi mau kawin,” ungkapnya.

Isworo hanya satu potret dari sekian banyak orang yang masih mengantungkan hidupnya dari alat transportasi kuno beroda dua yang meliuk-liuk di padatnya lalulintas Jakarta.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Kamis, 23 Juni 2011

Nujood Ali: ‘Diperkosa’ Di Malam Pertama


 
Tanggal 15 April 2008, Nujood Ali resmi berstatus janda di usia 10 tahun. ABG dari Yaman ini telah mendobrak budaya negerinya yang terbiasa menikah di bawah umur. Nujood dianggap pahlawan yang telah menyelamatkan kehidupan wanita Yaman.
          
Kini Nujood sudah berusia 13 tahun. Dia kembali bersekolah dan mendapatkan kehidupan normal seperti layaknya remaja seusia dia. Sebelumnya, penderitaan panjang telah menggores kisah hidupnya.
Sejak lahir, Nujood hidup dilingkungan keluarga miskin. Ayahnya, Ali Mohammed Ahdal memiliki 16 anak dari dua istri. Pria itu sudah tidak mampu lagi membiayai kehidupan anak istrinya, maklum, Ahdal hanya mengandalkan upah sebagai tukang sapu jalanan.
           
Dua kakak perempuan Nujood bernasib malang, Mona diperkosa orang, sementara Jamila dibawa kabur teman dekatnya. Ketimbang Nujood mengalami nasib serupa, Ahdal akhirnya menjodohkan kemudian menikahkan Nujood yang saat itu berusia 9 tahun dengan Faez Ali Tahmer.
          
Bagi wanita Yaman, menikah di usia dini, bahkan di bawah umur sekalipun merupakan hal lumrah. Budaya itulah yang membuat Nujood tidak memiliki pilihan selain menerima keinginan sang ayah. Dengan berat hati, Nujood pasrah dinikahi Faez, kurir yang berusia 30 tahun.
          
Alasan Ahdal,  menikahkan putrinya yang masih suka nonton film kartun dan bermain berlarian bersama teman sebayanya itu lebih karena faktor ekonomi. Dengan ‘direnggut’ nya Nujood dari keluarga, berarti kewajiban Ahdal berkurang satu mulut untuk diberi makan.
         
Setelah akad nikah, Nujood langsung diboyong tinggal di rumah Faez yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah orang tuanya. Sesuai aturan di Yaman, jika seorang pria menikahi gadis yang belum menstruasi, dia dilarang bersebadan sebelum istrinya mendapat menstruasi pertama.
          
Aturan yang sudah membudaya itulah yang membuat Nujood tidak khawatir langsung tinggal di rumah sang suami. Namun Faez bukan tipe pria yang mentaati komitmen dan aturan. Malam pertama itu menjadi neraka dunia bagi Nujood lantaran ‘diperkosa’ suaminya.
          
Selama dua bulan, hampir setiap malam, Nujood yang memang cantik itu tidak kuasa menolak hasrat Faez. Jika menolak, tubuh kecilnya menjadi sasaran empuk pukulan dan tendangan sang suami. Pernikahan itu ibarat penjara bagi Nujood yang tidak bisa bebas lagi keluar rumah.
         
Nujood yang malang hanya boleh keluar rumah untuk menemui keluarganya saja. Belia itu sempat menceritakan perlakukan Faez kepada ibunya, namun sang ibu hanya mampu menasehatinya untuk taat kepada suami. Nujood kehilangan pegangan hidup dan tempat mengadu. Terlebih sang ayah yang justru selalu membela Faez ketimbang melindungi putrinya.

Bertemu Hakim
Setiap berkunjung ke rumah ibunya, Nujood selalu mendapat uang untuk membeli roti. Uang itu disimpannya. Hingga suatu hari, dirinya sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang dialami, dia memutuskan kabur dan melarikan diri dari genggaman Faez. Dengan uang itu Nujood bisa mencapai pusat kota Sanaa.


Kepada sopir taksi dia menyampaikan keinginannya untuk bisa cerai dari sang suami. Akhirnya sopir taksi menurunkannya di halaman sebuah pengadilan yang luas. Dengan langkah gontai dan bingung, Nujood masuk ke dalam pengadilan. Perempuan kecil itu duduk di salah satu sudut ruang pengadilan yang ramai dan sibuk.
        
Kehadiran Nujood disana mengundang perhatian seorang hakim.  “Saya datang untuk mengurus perceraian,” ujar Nujood. Merasa prihatin, sang hakim berusaha menenangkan ABG galau itu dan berjanji akan membantunya.
         
Hakim itu menyimpulkan bahwa Nujood dalam kesulitan besar dan butuh pertolongan. Kemudian Nujood diajak pulang ke rumahnya. Di rumah yang lumayan besar itu, Nujood ditemani putri hakim yang berusia 8 tahun. Selama beberapa hari di rumah itu Nujood ditemani anak hakim dan melampiaskan kerinduannya bermain laiknya anak seusia dia.
        
Akhirnya Nujood diperkenalkan kepada Shatha Nasser, seorang wanita pengacara yang bersimpati dan akan memperjuangkan niat Nujood untuk minta cerai. Tidak mudah bagi Shatha mewujudkan keinginan kliennya. Sebab dia harus mendobrak tradisi  masyarakat Yaman yang menganggap tabu usahanya itu.
          
Dengan kegigihan dan dukungan media, akhirnya tanggal 15 April 2008, Pengadilan Yaman yang dipimpin Hakim Muhammad Al Ghazi memutuskan gugatan cerai itu.  Nujood bisa kembali ke pangkuan ibunya. Pengadilan memberikan sanksi hukuman kepada suami dan ayahnya.
          
Melalui media, kisah pedih Nujood dan perjuangannya menuntut keadilan telah menyedot perhatian dunia. Menlu Amerika, Hillary Clinton menjulukinya pahlawan dan menjamin keinginan Nujood untuk sekolah hingga mencapai sarjana. “Saya ingin menjadi pengacara,” ujarnya pada Hillary.
          
Dengan status janda cilik, Nujood tetap percaya diri berbaur dengan lingkungan sekolah. “Apa yang saya alami telah membuat saya semakin kuat  Sekarang hidup saya manis seperti permen,” ungkap Nujood yang gandrung matematikan dan Al Quran.
          
Keberanian Nujood menggugat cerai mendapat dukungan media internasional, seperti CNN, Time, New York Times,  Los Angeles Times dan lainnya. Bahkan situs glamour.com menobatkan Nujood sebagai women of Year 2008. Penganugerahan itu digelar di Manhattan
          
Perjuangannya telah menginspirasi Khadeja Sallami, kreator film Yaman  untuk mengangkat kisah hidupnya dalam film. Bahkan sebuah buku berjudul ’I am Nujood, Age 10 and Divorced’ yang mengangkat perjalanan hidup Nujood juga sudah diedarkan.
         
Kisah Nujood menjadi perwakilan dari perlawanan sejumlah perempuan belia Yaman, yang tidak ingin menikah dini. Bahkan perceraiana itu  menjadi inspirasi bagi peluncuran rancangan undang-undang perkawinan di Yaman yang melarang pernikahan di bawah usia 17 tahun.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Selasa, 21 Juni 2011

Ini Dia ‘Dokter Helikopter’

    
Mungkin hanya sedikit orang punya keahlian seperti M. Yanto, tetapi sangat banyak orang butuh keahliannya. Bisa apa sih dia? Yanto adalah ‘dokter’nya mainan remote control (RC). Dia mampu otak-atik dan modif  mobil balap sampai helikopter RC.
    
Hampir di semua mal di Jakarta ‘disusupi’ penjual mainan RC, terutama berbentuk helikopter mini. Mainan itu bisa terbang mirip aslinya, namun ringkih dan mudah rusak, begitu juga dengan mobil RC yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.
    
Melihat peluang itu, sejak 12 tahun silam Yanto buka ‘gerai’ servis mainan RC di anak tangga lorong sempit Pasar Gembrong, Jakarta Timur. Sampai sekarang pria yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya itu tetap mangkal di anak tangga, meski sudah punya kios permanen.
    
Kemampuannya memperbaiki mainan RC itu didapat secara otodidak. Jebolan SMA ini sejak kecil memang hobi mengotak-atik barang elektronik. “Apa aja yang ada di rumah saya bongkar, radio, tivi sampai kulkas. Karena selalu bikin rusak, saya sampai dikurung di kamar sama bapak,” kenangnya.
    
Karena rumah orangtuanya persis di belakang Pasar Gembrong, bursanya mainan anak di Jakarta, otomatis setiap hari Yanto akrab dengan suasana di sana. Ketika remaja, dia hobi main mobil Tamiya  dan selalu menang jika lomba. “Mobil Tamiya-nya sama, tapi sudah saya ‘kilik’ jadi larinya ngacir,” cerita pria ramah ini.
    
Berawal dari bongkar pasang Tamiya itulah Yanto kemudian belajar memperbaiki mobil RC dan mainan lain berbasic RC. Keahlian yang dimilikinya itu tersebar dari mulut ke  mulut. Semula hanya pedagang mainan saja yang jadi ‘pasien’nya, kini pelanggannya ada yang datang dari luar Jawa bahkan negeri tetangga Malaysia.
    
Pria berdarah campuran Pekalongan – Betawi ini memasang papan nama ‘Tagor Service’. Sepintas orang mengira dia berasal  dari Sumatera Utara. “Tagor itu singkatan dari tahu goreng. Bapak saya dulu punya pabrik tahu, sekarang jual tahu goreng”, paparnya sambil terkekeh.
    
Menurut pria berusia 30 tahun ini, ada tiga jenis mainan RC, kiddy, elektrik dan engine. “Kiddy dan elektrik  bisanya untuk mainan saja, tapi yang engine untuk lomba. Mesinnya sudah seperti mesin motor dan pakai methanol, bukan baterai,” ujarnya.
    
Yanto mengaku sanggup memperbaiki mainan RC jenis apapun, termasuk speedboat dan mobil-mobilan yang bisa ditunggangi bertenaga ACCU. Biasanya mereka yang bolak-balik datang bukan sekedar ingin servis, tetapi juga ingin memodifikasi tampilan dan power mobil RC nya.
    
Pengalamannya selama ini, helikopter RC lebih rentan rusak ketimbang mobil RC. Sebab ada dua kemungkinan yang terjadi, nabrak atau jatuh. “Kalau mobilkan Cuma nabrak aja, helikopter kalau nggak nabrak. Ya..jatuh,” terang Yanto.
    
Meskipun lokasi Tagor Service kurang nyaman dan sempit, namun pelanggannya tampak kerasan beralama-lama. “Kemarin bikin baterai dobel biar lebih lama mainnya, sekarang mau ganti body”, ujar Rudi yang sejak tiga tahun silam sudah jadi ‘pasien’ tetap ‘Dokter Tagor’. 
    
Beberapa toko mainan di Jakarta yang menerima layana servis ternyata ‘melempar’ ordernya ke Tagor Service. “Ya, bagi-bagi rezekilah. Mungkin masih banyak yang belum tahu ada Tagor di sini, kelakarnya.
    
Selain sebagai sumber penghasilan, melalui  keahliannya itu Yanto jadi kenal banyak orang dari beragam kalangan. “Yang main engine itu umumnya orang kaya, ada pejabat ada pengusaha. Teman saya jadi banyak”, ungkap ‘mekanik’ ini
    
Soal ongkos servis, tergantung kerusakan. Biasanya Yanto mematok harga Rp. 35 ribu sampai Rp. 50 ribu. “Kalau ada sparepart yang harus diganti, ongkosnya tergantung harga sparepart. Malah ada yang harus indent, barangnya dari luar negeri,” cerita Yanto.
    
Jerih payahnya selama ini telah berbuah manis. Yanto sudah memiliki kios yang menjual mainan RC, khususnya helikopter. Barang dagangan dan sparepartnya impor dari Jepang, Korea dan Cina. “Saya bisa jual lebih murah karena saya dapat dari tangan kedua setelah distributor”, ungkapnya.
    
Yanto yang merintis usaha ini dengan ketekunan dan kesabaran, kini mampu membayar enam orang karyawan. Bahkan dia tidak pelit berbagi ilmu kepada karyawannya agar mereka bisa menjadi ‘dokter RC’ dikemudian hari.*
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png